Rabu, 11 Januari 2012

Sebelas "11" Januari

Tak terasa waktu telah berjalan, 11 januari akhirnya tiba. Tanggal yang selalu ditunggu-tunggu, tanggal yang selalu dinanti-nanti. Ada apa dengan 11 januari? Di tanggal 11 januari 2011, aku telah memiliki seseorang yang benar-benar kusayang, yang bisa membuat semangat bergejolak, yang membuat hidupku lebih bermakna. Sebut saja namanya "RSY". Sosok wanita yang tidak begitu cantik, namun terlihat indah di bola mataku. Suaranya saja bisa membuat semangat tak terhingga.

Tapi itu dulu, sebelas januari yang dulu, sebelas januari yang sekarang sangat berbeda. Sebelas januari 2012, aku harus menjalani semuanya sendiri. Tanpa perhatian, tanpa rasa sayang, dan sempat membuatku jatuh, kehilangan rasa semangat. Bingung karena dia yang mengakhiri, tanpa alasan yang jelas. Tapi dia berkata, dia bukan yang terbaik untukku. Yasudahlah, mungkin itu jalan yang harus diambil. Makin lama aku mengerti, kenapa dia mengakhirinya. Timbul rasa yang berkecamuk, tapi, ikhlas adalah pilihan yang terbaik.

Tetapi ada masalah yang terjadi. Setelah tidak bersama lagi, ada suatu kejadian yang membuatnya menjadi benci kepadaku (perasaanku mengatakannya seperti itu). Aku ingin menjelaskan semuanya, agar kesalahpahaman bisa dihindari. Tapi apa daya, dia sepertinya sudah tak ingin mendengarkanku lagi. Mungkin ini sudah jalannya. Jalan pahit yang harus kuterima.

Sebenarnya sangat malu untukku membuat posting seperti ini, tapi semua itu harus dibuang, karena ini hal yang sangat berpengaruh di hidupku. Tapi, harapan untuk bersamanya takkan sirna. Aku masih ingin dia kembali suatu saat nanti...

Selasa, 27 Desember 2011

Ubah Citra Polisi di Mata Masyarakat



Berdasarkan berita yang dilansir oleh website resmi VOA (Voice of America) pada hari Selasa, tanggal 27 Desember 2011 yang berjudul "Sejumlah Aktivis LSM Tuntut Reformasi Kepolisian", penulis mengangkat judul "Ubah Citra Polisi di Mata Masyarakat" sebagai landasan tulisan ini.

Persepsi masyarakat sekarang menilai bahwa polisi bukanlah lagi aparatur negara yang sesuai dengan visi awal POLRI, yaitu menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, melainkan aparatur negara yang mengerikan, menakutkan, dan tidak dapat menjadi pelindung bagi masyarakat. Hal ini dapat kita lihat dari tragedi kemanusiaan yang terjadi di Bima, NTB, baru-baru ini. Sudah terdapat korban tewas dan banyak korban luka berat. Apa yang terjadi sebenarnya?

Menurut Neta Saputra dari berita yang dilansir VOA, hal ini terjadi karena pendidikan kepolisian berpangkat rendah hanya dididik selama 3 bulan. Hal ini dinilai beliau belum cukup sehingga polisi tidak mendapat kader-kader yang profesional dan yang disayangkan merekalah yang langsung berhadapan dengan masyarakat di lapangan. Indonesian Police Watch juga berguming bahwa polisi belum menggunakan prosedur standar operasional dalam pembubaran aksi demonstrasi perusahaan tambang di Bima, NTB.

Dari kutipan diatas, penulis berpendapat bahwa sudah saatnya citra polisi di mata masyarakat diubah. Maksud kata "diubah" adalah kembalikan citra polisi sesuai dengan visi awal POLRI, sehingga masyarakat menjadi merasa aman akan kehadiran polisi di tengah-tengah masyarakat, bukan menjadi sesuatu yang menakutkan. Polisi juga harus bertindak sesuai dengan prosedur standar operasional. Seharusnya polisi hanya melumpuhkan orang yang dianggap sebagai oknum yang bersalah, bukan membunuhnya. Korban tewas yang terjadi malah menyulutkan emosi masyarakat dan hal inilah yang menyebabkan masyarakat tidak percaya lagi dengan polisi.

Sudah saatnya polisi berbenah dengan kejadian yang terjadi sekarang. Jaga kepercayaan masyarakat, dan kembalikan semangat polisi yang dibentuk untuk mengayomi, melayani, dan melindungi masyarakat.